Schistosomiasis di Poso-Sigi, Tantangan Lintas Sektor

Schistosomiasis masih menjadi ancaman kesehatan di Kabupaten Poso dan Sigi, Sulawesi Tengah. Penyakit zoonotik yang juga dikenal sebagai demam keong itu menginfeksi 257 warga di kedua kabupaten tersebut sepanjang 2022, sementara upaya pencegahannya menghadapi tantangan karena membutuhkan kerja bersama banyak sektor.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah I Komang Adi Sudjendra mengatakan, pengendalian penyakit ini tidak cukup mengandalkan pemeriksaan dan pengobatan warga. Penanganan juga perlu menyasar lokasi fokus keong, termasuk melalui perbaikan aliran air dan pengelolaan lahan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak siput perantara.

Schistosomiasis ditularkan melalui siklus yang melibatkan cacing dan keong oncomelania hupensis lindoensis, spesies endemik Sulawesi Tengah. Telur cacing yang berasal dari tinja hewan dapat menetas di air tawar yang tergenang, lalu masuk ke tubuh keong. Karena itu, lingkungan, sanitasi, hingga pengelolaan ternak turut berperan dalam upaya memutus penularan.

Penanganan schistosomiasis perlu menyasar lingkungan

Menurut I Komang, rekayasa lingkungan menjadi salah satu langkah penting, terutama di lokasi yang menjadi fokus keberadaan keong. Saluran air di kawasan rawa perlu dibuat mengalir, sedangkan lahan yang berpotensi mendukung pertumbuhan keong perlu dikelola. Upaya itu membutuhkan keterlibatan instansi di luar sektor kesehatan.

“Untuk memberantas semua itu perlu (keterlibatan) lintas sektor terkait, dari (dinas) peternakan untuk urusan hewannya,” kata I Komang saat ditemui di Puskesmas Maholo, Lore Timur, Sabtu (11/2).

Ia mencontohkan, pengelolaan irigasi dapat melibatkan instansi pekerjaan umum, sementara lahan kosong yang berpotensi menjadi tempat tumbuh keong bisa dibuka untuk kegiatan pertanian. Dinas peternakan juga diperlukan untuk menangani hewan yang menjadi sumber telur cacing, termasuk ternak mamalia seperti sapi dan kerbau yang tidak dikandangkan.

Kementerian Kesehatan mengategorikan demam keong sebagai penyakit zoonotik. Program pencegahan dan pengendaliannya mencakup pengawasan, pengobatan, pemberantasan keong yang positif, rekayasa lingkungan, penyediaan sanitasi dan air bersih, serta pengelolaan penggembalaan ternak. Rangkaian ini menunjukkan bahwa penanganan tidak berhenti pada pemberian obat kepada warga yang terinfeksi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso Taufan Karwur menilai dukungan lintas sektor masih terbatas. Menurut dia, schistosomiasis kerap dipandang sebagai persoalan daerah dan belum mendapat perhatian yang sepadan dari kementerian di luar Kementerian Kesehatan. Padahal, pengendalian penyakit ini membutuhkan kontribusi berbagai pihak, terutama di kawasan tempat keong ditemukan.

Lokasi fokus keong membatasi aktivitas warga

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Poso pada 2019 mencatat sedikitnya 269 lokasi fokus keong tersebar di 23 desa. Lokasi itu berada di Kecamatan Lore Utara, Lore Timur, Lore Piore, Lore Tengah, dan Lore Selatan. Angka tersebut menggambarkan luasnya area yang perlu dipantau, meski data itu merujuk pada pencatatan tahun 2019.

Keberadaan lokasi fokus juga bersentuhan langsung dengan kehidupan warga yang bekerja sebagai petani. Di Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, terdapat delapan lokasi fokus keong. Sekretaris Desa Kalemago Otniel Papunde mengatakan kondisi itu membatasi kegiatan warga, yang sebagian besar bekerja di kebun dan sawah.

Petani dianjurkan memakai alat pelindung diri, termasuk sepatu bot, saat beraktivitas di area tersebut. Namun, menurut Otniel, penggunaan sepatu bot tidak selalu mudah diterapkan ketika petani harus mengolah sawah. Peralatan itu dinilai dapat membatasi gerak sehingga pemakaiannya tidak maksimal untuk pekerjaan di lahan.

Otniel menyebut delapan warga di desanya terinfeksi schistosomiasis sepanjang 2022, termasuk anak-anak. Sementara itu, Putu Novayanti, petani dari Desa Mekar Sari, Lore Timur, mengaku khawatir ketika bekerja di sekitar lokasi fokus. Ia berusaha memakai sepatu bot, tetapi juga berharap penanganan penyakit tersebut segera membuahkan hasil agar tidak ada lagi warga yang terinfeksi.

Kerja terpadu menjadi kunci pencegahan

Kekhawatiran warga bertambah karena keberadaan penyakit tidak selalu mudah dikenali. Putu menyampaikan bahwa gejalanya jarang terdeteksi, sementara aktivitas bertani membuat warga tetap berhadapan dengan area yang berisiko. Pengalaman itu memperlihatkan pentingnya informasi pencegahan dan akses pemeriksaan yang mudah dijangkau masyarakat.

Pemantauan di lokasi fokus keong juga menemukan papan peringatan agar warga menggunakan sepatu bot. Namun, perlindungan diri hanya satu bagian dari upaya pengendalian. Perbaikan saluran air, pengelolaan lahan, sanitasi, pengawasan ternak, serta pemeriksaan dan pengobatan perlu berjalan beriringan agar sumber penularan tidak terus berada di sekitar permukiman dan lahan kerja.

Dengan kasus yang tercatat di Poso dan Sigi serta banyaknya lokasi fokus di Poso, koordinasi antarlembaga menjadi pekerjaan penting. Dukungan yang terarah pada area berisiko, sebagaimana ditekankan para pejabat kesehatan setempat, diharapkan dapat mengurangi paparan bagi warga. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian, pencegahan schistosomiasis perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga aktivitas mereka tetap aman.

adminuser

Kolompublik