DKI Bidik Obesitas Turun ke 27–28 Persen pada 2028

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menargetkan angka obesitas di ibu kota turun menjadi 27–28 persen pada 2028. Sasaran itu ditetapkan di tengah temuan bahwa sekitar satu dari tiga warga Jakarta mengalami obesitas, serta hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang menunjukkan angka 31,5 persen pada orang yang telah diskrining hingga triwulan II 2026.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Dinkes DKI Jakarta, Arif Syaiful Haq, menyampaikan target tersebut dalam seminar “Agent of Change” di Jakarta. Ia berharap angka obesitas tidak lagi berada di atas 30 persen dalam dua tahun mendatang.

“Obesitas nanti di 2028 (diharapkan) dapat turun. Jangan 30 persen lagi, mungkin di angka 28 atau 27 persen,” kata Arif.

Target itu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menekan obesitas dan risiko penyakit tidak menular. Dinkes DKI menjalankan sejumlah kegiatan yang mendorong warga lebih aktif bergerak serta memperhatikan pola makan sehari-hari.

Angka obesitas Jakarta masih sekitar sepertiga penduduk

Merujuk Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Arif menyebut satu dari tiga orang di Jakarta mengalami obesitas. Dalam data tersebut, angka obesitas ibu kota tercatat sebesar 31,8 persen.

Gambaran lain muncul dari pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hingga triwulan II 2026, sebanyak 612.548 orang dari total 1.944.494 orang yang menjalani skrining tercatat mengalami obesitas. Jumlah itu setara dengan 31,5 persen dari mereka yang diperiksa.

Angka CKG tersebut menggambarkan hasil pada kelompok yang telah mengikuti pemeriksaan, bukan seluruh penduduk Jakarta. Adapun data SKI 2023 dan hasil skrining CKG berasal dari sumber serta periode yang berbeda. Keduanya menunjukkan tantangan yang masih dihadapi Dinkes dalam mengejar target penurunan obesitas.

Obesitas bukan hanya persoalan ukuran tubuh. Kementerian Kesehatan menyebut kondisi ini sebagai penyakit kronik yang ditandai peningkatan massa lemak secara berlebihan. Keadaan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular dan menurunkan usia harapan hidup.

Program DKI dorong gerak aktif dan pola makan sehat

Salah satu upaya yang dijalankan Dinkes adalah tantangan “Downgrade Ukuran Bajumu”, yang telah memasuki tahun keempat. Arif menjelaskan, perubahan ukuran pakaian bukan tujuan utama kegiatan tersebut, melainkan bonus dari usaha mencapai kondisi tubuh yang lebih sehat.

“Mendowngrade ukuran baju kita yang sebenarnya adalah bonus, karena utamanya adalah bagaimana kita mencapai sehat,” ujar Arif.

Dinkes juga mengembangkan “Jakarta Berjaga”, singkatan dari Bergerak, Bekerja, Berolahraga dan Bahagia. Dalam program ini, peserta ditantang berjalan sedikitnya 7.500 langkah setiap hari selama 21 hari berturut-turut.

Peserta juga diajak menerapkan pola makan dengan konsep “Isi Piringku”. Program tersebut mendorong aktivitas fisik minimal 30 menit per hari atau 150 menit dalam sepekan. Dinkes menyebut kampanye lanjutan akan diarahkan untuk mengajak warga bergerak dan beraktivitas demi hidup sehat.

Perilaku sedenter menjadi perhatian

Arif mengingatkan bahwa kebiasaan hidup sedenter—banyak duduk dan kurang bergerak—merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular, terutama obesitas. Karena itu, program yang dijalankan tidak hanya menyoroti berat badan, tetapi juga rutinitas aktivitas fisik.

Target penurunan menuju 27–28 persen pada 2028 masih harus diupayakan melalui kebiasaan sehat yang dijalankan secara konsisten. Tantangannya bukan semata mengajak warga mengikuti program dalam waktu singkat, melainkan menjaga agar aktivitas fisik dan pola makan sehat menjadi bagian dari keseharian.

adminuser

Kolompublik