Warga Jepang Berusia 100 Tahun Tembus 107.677 Orang

Jepang mencatat 107.677 penduduk berusia 100 tahun ke atas pada 2026, rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai. Angka dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang itu bertambah 7.914 orang dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menandai pertama kalinya jumlah warga berusia seabad menembus 100.000 orang.

Mayoritas dari mereka adalah perempuan. Sebanyak 94.298 orang atau sekitar 88 persen merupakan perempuan, sementara 13.379 lainnya laki-laki. Lonjakan ini menambah panjang tren peningkatan jumlah centenarian di Jepang, tetapi tidak berarti ada satu rahasia tunggal yang menjelaskan usia panjang mereka.

Jumlah warga Jepang berusia seabad terus meningkat

Ketika pemerintah mulai mendata penduduk berusia 100 tahun ke atas pada 1963, jumlahnya baru 153 orang. Angka itu melewati 1.000 pada 1981, kemudian mencapai 10.000 pada 1998 dan 50.000 pada 2012. Kini, jumlahnya telah lebih dari dua kali lipat dibandingkan catatan 2012.

Pemerintah Jepang mengaitkan meningkatnya usia harapan hidup dengan beberapa hal, antara lain perbaikan lingkungan hidup, pola makan dan status gizi, serta kemajuan teknologi dan layanan medis. Akses terhadap layanan kesehatan melalui sistem asuransi kesehatan universal juga disebut menjadi bagian dari dukungan kesehatan masyarakat.

Namun, angka tersebut tidak bisa dijelaskan oleh satu kebiasaan tertentu. Pola hidup, kemajuan pengobatan, dan kondisi kesehatan yang terbentuk selama puluhan tahun ikut berperan. Karena itu, kebiasaan yang kerap dikaitkan dengan umur panjang lebih tepat dipandang sebagai prinsip yang mendukung kesehatan, bukan jaminan seseorang akan mencapai usia seabad.

Aktivitas ringan dan pola makan seimbang

Salah satu prinsip yang dapat diterapkan adalah tetap aktif dalam keseharian. Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat atau latihan di pusat kebugaran. Berjalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi umum, naik tangga ketika memungkinkan, hingga melakukan pekerjaan rumah dapat membantu mengurangi waktu duduk.

Intinya, bergerak tidak perlu menunggu ada waktu khusus untuk berolahraga. Bagi orang yang jarang beraktivitas, memulai dengan berjalan kaki 10–15 menit setiap hari dapat menjadi langkah yang lebih realistis. Durasi atau intensitasnya bisa ditingkatkan secara bertahap, sesuai kondisi tubuh.

Pola makan tradisional Jepang kerap mencakup ikan, sayuran, nasi, kedelai, serta makanan fermentasi. Secara historis, masyarakat Jepang juga mengonsumsi lebih sedikit lemak jenuh dibandingkan sejumlah negara Barat. Meski begitu, meniru pola makan tersebut bukan berarti harus mengganti seluruh menu dengan masakan Jepang.

Prinsip yang bisa diambil adalah mengutamakan makanan minim proses dan menjaga keberagaman asupan. Sayur, buah, ikan, kacang-kacangan, serta sumber protein yang beragam dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Sebaliknya, konsumsi makanan ultra-proses, gula berlebih, dan lemak jenuh sebaiknya dibatasi.

Hubungan sosial juga bagian dari kesehatan

Kesehatan pada usia lanjut tidak hanya berkaitan dengan makanan dan gerak tubuh. Hubungan dengan orang lain juga berpengaruh terhadap kesejahteraan. Berkumpul bersama keluarga, bertemu teman, atau mengikuti kegiatan komunitas dapat membantu seseorang tetap terhubung dan mengurangi risiko terisolasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan hubungan sosial sebagai bagian penting dari kesehatan. Komisi WHO tentang Koneksi Sosial menyatakan kesepian dan isolasi sosial dapat berdampak serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Dengan demikian, menjaga relasi dan memiliki orang untuk diajak berbicara juga patut diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan aktif dan terhubung dengan lingkungan sebaiknya dibangun jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut. Kesehatan lansia merupakan hasil dari kondisi dan kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun, bukan hanya perubahan yang dilakukan ketika seseorang sudah berumur.

Rekor usia panjang, tantangan demografi

Di balik rekor itu, Jepang menghadapi tekanan akibat penduduk yang menua dan angka kelahiran yang rendah. Data yang dilaporkan pada 2025 menunjukkan tingkat kesuburan total Jepang sebesar 1,14 anak per perempuan, jauh di bawah angka sekitar 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil tanpa mengandalkan imigrasi.

Hampir tiga dari setiap 10 penduduk Jepang kini berusia 65 tahun atau lebih. Proporsi tersebut diperkirakan mendekati 40 persen pada 2070. Pada periode yang sama, jumlah penduduk diproyeksikan turun dari sekitar 128 juta jiwa pada 2008 menjadi 87 juta jiwa.

Perubahan demografi itu berpotensi menambah tekanan pada tenaga kerja, dana pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan lansia. Pemerintah Jepang pun menghadapi kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan sistem jaminan sosial, sembari merespons penurunan angka kelahiran.

Rekor jumlah warga berusia seabad menunjukkan kemajuan dalam memperpanjang usia hidup, tetapi umur panjang perlu berjalan beriringan dengan kualitas hidup dan dukungan sosial. Bagi masyarakat, langkah sederhana seperti lebih banyak bergerak, memilih asupan seimbang, dan menjaga hubungan dengan orang lain dapat menjadi awal yang masuk akal untuk merawat kesehatan dalam jangka panjang.

adminuser

Kolompublik